Beberapa hari terakhir, berita tentang banjir heboh ditampilkan di televisi siaran. Ada beberapa berita yang terkesan bombastis dengan menyajikan kisah dan komentar para korban, ada pula yang menyajikan informasi dengan sedikit memaksa dan menggiring opini warga mengenai banjir yang terjadi. Lokasi kejadian tak jauh dari pusat stasiun siaran nasional. Jakarta. Tentu saja hal ini sangat mengusik akal sehat, bagaimana mungkin kejadian yang sebenarnya lingkup lokal, meski terjadi di ibukota (atau lebih tepatnya, sekitar ibukota) menjadi menu yang disajikan setiap jam dan setiap detik di kotak televisi secara nasional? Bukankah masih banyak kejadian bencana yang lebih besar seperti Sinabung atau banjir di Manado?
Ada dua kemungkinan jika kita melihat kecenderungan liputan yang “lokalistik” Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Pertama, ‘kemalasan’ orang media untuk melihat dan mencover wilayah lain karena alasan biaya dan jangkauan lokasi, atau kedua, ‘narsisme’ kru media yang coba disajikan dalam medium transmisi siaran nasional. Alasan pertama akan membuktikan bahwa media hanya berpikir ekonomis untuk menyajikan informasi ke masyarakat. Tak perlu keluar biaya besar untuk sajikan informasi. Namun cara pikir yang memicu alasan kedua akan membuktikan jika jangkauan hidup praktisi media hanya cenderung melihat bahwa Indonesia = jakarta. Tak penting daerah lain.
Lantas alasan mana yang paling mungkin jadi pembenar? Akan sangat menarik jika dilakukan riset untuk mengungkap itu semua, namun dalam kerangka pikir pragmatis, saya melihat bahwa liputan yang lokalistik dan disajikan ke nasional merupakan arena narsisme para pekerja media. Apa pasal, mereka mengalami banjir sendiri, otomatis sebagai manusia akan cenderung untuk menampilkan apa saja yang jadi kesan mereka. Bukankah sebagian pekerja media yang disaksikan di tayangan televisi hanya meminjam mulut dan opini orang lain untuk memastikan opini mereka sendiri diterima?
Kembali ke konteks medium penyiaran, saya pikir tidak fair jika media hanya dominan menyajikan informasi dominan dari Jakarta saja, saudara kita di tempat lain juga punya hak untuk mendapatkan informasi dan diangkat menjadi informasi nasional. Menasionalkan bencana banjir yang bersifat lokal hanya akan membuat banyak daerah terabaikan. Bukankah kisah bekasi, ciledug, jakarta, hanyalah kisah lokal. Betapa naifnya jika Indonesia hanya dilihat sebagai reprentasi nasional. Jika perilaku seperti itu masih berlangsung, kenapa tidak stasiun televisi nasional yang hobby menyiarkan dominan berita Jakarta, beralih saja ke siaran lokal DKI Jakarta.

Iklan