You are currently browsing the category archive for the 'sisi lain' category.
Peringatan hari anti korupsi sedunia tahun ini banyak keistimewaan. Selain acara resmi, sekian ratus jaksa di ibukota ikut upacara, di daerah pun, dengan sponsor kejaksaan digelar pula kantin kejujuran. Tentu tak ada yang salah dengan kantin kejujuran. Bagus untuk media pembelajaran, namun sayangnya, kantin kejujuran di sebuah lembaga penegak hukum -sebagaimana diberitakan media massa- harus tutup karena “ketidakjujuran” pengunjungnya. Yang mungkin bisa jadi para pengumereka yang bekerja tak jauh dr kantin itu berada.
Lantas, ketika hal yang sama dicobaterapkan pada lembaga pendidikan tentu akan memunculkan sebuah ironi. Betapa tidak, seolah ada pembeda besar antara dunia nyata (kerja) dengan dunia belajar (sekolah). Ketika kejujuran diajarkan, namun hanya akan jadi slogan saat berada di dunia nyata.
Ironi itu makin membuat hati miris, saat kebiasaan seremonial seolah melengkapi slogan dan hanya akan ramai dibicarakan saat momen tertentu. Selepas momen tersebut hilang jelas akan tercerabu pula bekas yang ada.
Kebiasaan seremonial, dari pengalaman yang ada akan menabalkan hati dan perilaku untuk tidak berubah dengan kesadaran.
Sama halnya dengan berbagai rekayasa yang muncul saat pelatihan dan pola reengineering lainnya. Yang disentuh bukan hati dan akal, namun pikiran. Orang berpikir bahwa hal itu ada sekadar sebagai tambah pengetahuan saja.
Lantas, di titik ini, pantaskah jika kita berbangga diri bahwa perubahan telah dilakukan?
[mth]
Seorang pencopet yang menjadi jendral. Ia mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang jenderal di pasukan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu pasukan pendudukan Jepang mundur pada tahun 1945 dan Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan tersebut. Pada awalnya semua itu dilakukan hanya sekadar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya, dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan.
Banyak yang mengatakan film itu mengingatkan orang akan sentimen dan nostalgia ke-Batak-an Indonesia.
Menjelang akhir 90-an, ketika pertama kali film besutan sutradara MT Risyaf itu diputar di bioskop, jujur saya tidak bisa memahami keseluruhan arti film itu. Ketika itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi kebanyakan anak seusia saya, hal-hal lucu dalam film itu saja yang jadi perhatian. Read the rest of this entry »
Kaum Timur, yang berdiam di berbagai kawasan Asia Timur termasuk Indonesia dan Melayu sangat dikenal dengan ciri sopan santun. Kesan tersebut banyak ditemukan dalam literatur ataupun catatan perjalanan yang terbit di negara-negara barat. Catatan itu mungkin muncul dari kesan pertama para pelancong terhadap komunitas di kawasan Asia Timur. Apakah karena tutur katanya yang santun, perilakunya sopan dan hormat sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Menarik sekali ketika orang timur dengan budaya yang berbeda, bisa dinilai orang barat sebagai komunitas Read the rest of this entry »
“Pak Bupati, kenapa biaya administrasi di kantor samsat sebagian kok nggak ada kuitansinya? Ambil formulir yang jumlahnya satu lembar aja harus membayar Rp45 ribu. MAHAL BUANGET,” tulis seorang pengunjung situs resmi pemerintah daerah.
Bagi warga yang berpenghasilan kurang dari Rp500 ribu per bulan angka tersebut memang sangat terasa. Dengan
uang sebesar itu, ia bisa menebus beras sebanyak sembilan kilogram yang bisa jadi cukup untuk dua minggu. Bahkan bisa lebih. Namun, bagi sebagian yang lain, angka itu tak menjadi masalah. Bahkan jutaan uang yang lolos dari kantung untuk membayar aksi dugem Read the rest of this entry »
Wajahnya terlihat lesu. Sekalipun matanya menyorotkan semangat untuk berjuang, namun wadagnya tidak terlalu bersahabat. Sudah sekitar 2 tahun virus mematikan yang menyerang kekebalan tubuh menggerogoti tubuhnya yang kian kurus kering. “Saya tidak pernah bersedih, sekalipun pernah menyesal namun kini saya harus hidup untuk berbagi pengetahuan bagi anak-anak muda seusia saya,” kata seorang perempuan penderita AIDS asal Malang yang menghadiri sesi testimoni dalam peringatan Malam Renungan AIDS di Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.
“Kami, para orang yang hidup dengan AIDS,” kata perempuan muda itu, “tidak perlu dikasihani. Kami hanya berharap bahwa stigma atas kami hilang. Diskriminasi yang terjadi pada kami terhapus,” pintanya dengan nada sesak. Tentu saja, paparan perempuan ini juga menyesakkan dada para hadirin. Tak terasa juga beberapa kawan menitikkan air mata.
Penderita AIDS bukanlah kriminil.
Dalam ruang kelas seorang siswa bangga menunjukkan gelang putih di tanganya. Gelang itu diperoleh dari artis idolanya dalam sebuah kampanye. Lantaran gelang itu diberikan langsung oleh sang artis, kontan cerita dari mulutnya meluncur tak habis-habis. Mulai dari bagaimana asal muasalnya bisa bertemu, warna baju sang artis saat kampanye, hingga gosip terkini tentang sang artis. Ia dengan bangga menyebut artis idolanya telah menjadi duta kampanye.
Duta. Saat ini seolah bagian tak terpisahkan dalam kegiatan kampanye. Mulai dari minuman sehat, makanan sehat, penanggulangan penyakit hingga perilaku adaptasi sebuah inovasi dan temuan baru. Read the rest of this entry »
Manusia dalam setiap zaman selalu menghadapi tantangan, problema-problema yang membutuhkan suatu bentuk penyelesaiaan. Teknik dan metode manusia dalam merespons tantangan inilah yang menjadi catatan sejarah kehidupan manusia dari masa ke masa. Menurut sejarawan, Toynbee, ada hal-hal spesifik dalam kurun waktu tertentu pergumulan karakter manusia dengan situasi dan cara manusia merespons situasi tersebut. Termasuk terhadap bencana.
Bencana, dapat dimaknai sebagai dua sisi laiknya mata uang. Musibah sekaligus berkah. Kondisi dan kenyataan hidup yang harus ditanggung para korban adalah satu sisi dari “mata uang” bencana. Sementara, di sisi lain, kepedulian terhadap kemanusiaan yang bisa dilatarbelakangi kepentingan politik, bisnis bantuan, dan berbagai semangat filantropis berlumuran pamrih bisa tumbuh dan berkembang. Secara sosial bencana telah menyebabkan masyarakat berjarak dari norma-norma, ritme kehidupan dan nilai-nilai yang sudah mereka jadikan pegangan dasar kehidupan keseharian. Bangunan sistem sosial yang telah selama ini memberi makna, norma dan aturan peran yang jelas dan dipahami bersama tiba-tiba runtuh bersamaan dengan terganggunya lingkungan fisik mereka.

Komentar Terakhir