You are currently browsing the monthly archive for November 2011.

Abad ini, bangsa-bangsa dunia memulai memaknai kembali arti kemiskinan. Sebuah agenda besar ditetapkan dalam kerangka Millenium Development Goals 2015[1]. Isu pengentasan kemiskinan menjadi suatu gebrakan besar yang lebih fokus sebagai wahana mengejewantahkan keseriusan kolektif dalam mereduksi jumlah  orang miskin yang hadir di muka bumi ini. Tapi gerakan itu merupakan ironi di tengah agenda kapitalisme global. Pasalnya kemiskinan hanya dihitung dalam aspek angka saja.

Di Indonesia, masalah kemiskinan sudah sangat melekat dan telah menjadi determinan utama bangsa ini. Bahkan dalam Pembukaan UUD 1945 menegaskan, membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dua aspek kemiskinan dan pendidikan menjadi langkah awal membangun bangsa yang sangat majemuk ini.

 

Dua Sisi Kemiskinan

Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran (BPS, 2011: 97). Orang miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan[2]. Dalam data yang dirilis BPS. Ada kecenderungan jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia menurun selama periode 1998-2011. Pada tahun 1998, persentase penduduk miskin tercatat sebanyak 24,23 persen (49,5 juta orang). Tingginya angka kemiskinan tersebut dikarenakan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 yang berakibat pada meroketnya harga-harga kebutuhan dan berdampak parah pada penduduk miskin. Sejalan dengan harga-harga kebutuhan yang kembali menurun, angka kemiskinan juga menurun. Singkatnya kemiskinan hanyalah persoalan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan. Hal itu mungkin sejalan dengan definisi miskin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diartikan sebagai berarti tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Dengan logika ekonomis ini kemiskinan menjadi pemicu beragam masalah sosial dan politik. Baca entri selengkapnya »

@myhafaz

 

November 2011
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.