Kemajemukan bangsa Indonesia begitu nyata tercermin dalam keseharian manusia Indonesia. Mulai dari warna kulit, ras, etnik, agama, bahasa, adat tradisi, ideologi politik, hingga status sosial. Banyak negara di dunia yang mengakui betapa sulitnya untuk menciptakan kebersamaan atau bahkan kekuatan dari karakter bangsa yang majemuk.
Belum lama ini, Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan bahwa segala upaya menciptakan masyarakat majemuk budaya di Jerman gagal. Menurutnya membiarkan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda untuk hidup berdampingan tanpa membaur ternyata tidak berhasil di negaranya.
Bagaimana dengan Indonesia? Sejarah mencatat bahwa kemajemukan bangsa Indonesia justru menjadi bekal kuat sebagai pemersatu bangsa ini. Masyarakat majemuk Indonesia memiliki satu penghayatan nasib yang sama dan satu pengharapan atas sebuah masa depan bersama yang sejahtera. Kedua ikatan membuahkan penghargaan atas keberbedaaan dalam bentuk bhinneka tunggal ika.
Sebagai salah satu warisan pendiri bangsa, bhinneka tunggal ika jelas bukan sekadar slogan belaka. Sejarah membuktikan bahwa segala perbedaan justru bisa menjadi sumber kekuatan untuk lepas dari penjajahan. Bersama dengan itu berkembang pula gagasan tentang kebersamaan dan kesetaraan di antara anak bangsa, tanpa membedakan asal-usul, suku, dan agama, sebagai nilai penentu kebangsaan.
Dalam sebuah konferensi tentang pluralitas di Roma, Italia tahun lalu, Indonesia mendapat pujian sebagai “model masyarakat plural”. Tentu penghargaan itu bukan asal diberikan. Dunia internasional terpukau atas pluralitas bangsa yang menghuni sekitar 5.000 pulau di sepanjang khatulistiwa. Di tengah 250 lebih bahasa dan dialek, lebih dari 1.000 etnis dan subetnis.
Sebuah bangsa yang sangat majemuk tetapi bisa hidup berdampingan secara relatif damai. Bahkan, konstitusi bangsa ini juga dibangun dari keberagaman, dialog dan perdebatanperdebatan yang beradab. Namun, sepanjang waktu masih bergulir, dinamika masyarakat, teknologi dan pergaulan dunia akan memengaruhi keberagaman di Indonesia. Gagasan kebangsaan di tengah kemajemukan akan senantiasa diuji perkembangan jaman. Kondisi masyarakat yang majemuk bisa membuat suatu komunitas negara menjadi rentan (vulnerable) dengan potensi konflik. Selain menjadi kekayaan bangsa, kemajemukan sangat berpotensi memicu terjadinya disharmoni bahkan kekerasan antar elemen yang ada. Hampir di seluruh dunia, gejala fragmentasi sosial tampak makin meluas. Konflik antar golongan muncul dalam berbagai bentuk berupa konflik etnik, budaya, agama, atau politik. Kondisi itu jelas bisa merusak tatanan sosial hingga menyebabkan kehancuran modal sosial.
Konflik hanya akan muncul manakala tidak ada acuan nilai bersama dalam masyarakat.Secara nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia, konflik dan kekerasan dapat dilihat sebagai anomali sosial. Pasalnya, konflik yang hadir di tengah masyarakat majemuk tidak mungkin hadir jika rasionalitas dan hukum masih menjadi acuan kehidupan bersama. Jika kedua hal ini tidak menjadi basis kehidupan warga, tentu unjuk kekuatan fisik dan eksalasi konflik adalah hal yang tak bisa dihindarkan.
Di tengah kondisi masyarakat majemuk tentu saja hal itu membutuhkan berbagai antisipasi yang cerdas. Beruntung Indonesia telah puluhan tahun menjalani kemajemukan dan bisa menyelesaikan berbagai tantangan sebagai bangsa. Banyak kenyataan yang bisa membuat kebersamaan dan kesatuan bertambah kokoh, di tengah kemajemukan yang ada. Tidak sedikit pula terobosan digagas dan digerakkan oleh gerakan atau forum agama-agama. Semua ini adalah bukti kesadaran sebangsa yang luar biasa, dan teruji sejak dialog para pemuda di tahun 1928 yang berupaya menyelesaikan konflik dengan menggunakan bahasa bersama, bahasa Indonesia.
Kini tugas besar yang harus dilakukan bersama adalah mengelola bangsa yang majemuk agar tetap bersatu dengan menegakkan kebersamaan dan kesetaraan sambil meyakini bahwa kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan bersama sebagai satu bangsa. Tantangan besar itu tentunya bisa dijawab dengan kerjasama yang sinergis antar berbagai elemen bangsa. Dalam konteks keIndonesiaan, perbedaan sudah selayaknya tetap mendorong setiap anak bangsa tetap memiliki kesempatan dan peluang yang setara. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kepedulian sosial terhadap sesama agar bisa terbangun tanggung jawab sosial bersama. Tidak hanya cukup dibutuhkan toleransi saja, namun harus selalu terbuka ruang untuk berdialog agar muncul keterikatan, keterlibatan, dan keikutsertaan dalam setiap proses yang ada.
Pelajaran penting yang bisa diambil adalah senantiasa memahami relevansi kebersamaan dan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan perlu dikembangkan agar bisa terbangun kesetiakawanan sosial dan keadilan di tengah masyarakat. Tanpa modal itu, jangan pernah berharap muncul kekuatan untuk menghadapi tantangan bangsa di masa kini dan mendatang. (m)

Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini