You are currently browsing the monthly archive for Desember 2008.
Peringatan hari anti korupsi sedunia tahun ini banyak keistimewaan. Selain acara resmi, sekian ratus jaksa di ibukota ikut upacara, di daerah pun, dengan sponsor kejaksaan digelar pula kantin kejujuran. Tentu tak ada yang salah dengan kantin kejujuran. Bagus untuk media pembelajaran, namun sayangnya, kantin kejujuran di sebuah lembaga penegak hukum -sebagaimana diberitakan media massa- harus tutup karena “ketidakjujuran” pengunjungnya. Yang mungkin bisa jadi para pengumereka yang bekerja tak jauh dr kantin itu berada.
Lantas, ketika hal yang sama dicobaterapkan pada lembaga pendidikan tentu akan memunculkan sebuah ironi. Betapa tidak, seolah ada pembeda besar antara dunia nyata (kerja) dengan dunia belajar (sekolah). Ketika kejujuran diajarkan, namun hanya akan jadi slogan saat berada di dunia nyata.
Ironi itu makin membuat hati miris, saat kebiasaan seremonial seolah melengkapi slogan dan hanya akan ramai dibicarakan saat momen tertentu. Selepas momen tersebut hilang jelas akan tercerabu pula bekas yang ada.
Kebiasaan seremonial, dari pengalaman yang ada akan menabalkan hati dan perilaku untuk tidak berubah dengan kesadaran.
Sama halnya dengan berbagai rekayasa yang muncul saat pelatihan dan pola reengineering lainnya. Yang disentuh bukan hati dan akal, namun pikiran. Orang berpikir bahwa hal itu ada sekadar sebagai tambah pengetahuan saja.
Lantas, di titik ini, pantaskah jika kita berbangga diri bahwa perubahan telah dilakukan?
[mth]

Komentar Terakhir