Dulu, almarhum ibu saya cuma komentar pendek, saat mulai muncul fenomena artis menjadi politisi, “Lengkap, nanti akan jadi panggung sandiwara..!” Ada benarnya juga komentar itu. Tontonan yang diberikan kepada khalayak televisi tentang aktivitas wakil rakyat seolah sebagai sebuah drama. Bicara di dalam keras menentang dan seringkali sebelum diambil keputusan ada hujan interupsi, namun setelah diputuskan (dan bisa jadi sudah dipersiapkan skenario sebelumnya) malah akan menganguk-angguk dan diam saja. Zonder konsistensi!
Fenomena artis menjadi politikus bukanlah hal baru. Tidak jarang, kisah sukses menyertai selebriti yang berlaga di dunia yang satu ini. Sebut saja Ronald Reagan yang berhasil menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) periode 1981-1989 atau tokoh laga Arnold Schwarzenegger yang menduduki kursi Gubernur Negara Bagian California pada 2003.
Sebelumnya banyak orang AS yang meragukan kemampuan pemeran Terminator ini dalam panggung politik. Kisah sukses ini coba diulangi Rano Karno dan Dede Yusuf. Aktor yang mampu menduduki posisi orang nomor dua di wilayah masing- masing. Rano menjabat sebagai Wakil Bupati Tangerang, sedangkan Dede kini sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.
Sebelumnya nama-nama seperti Adjie Massaid, H Qomar, Angelina Sondakh telah berhasil menjadi wakil rakyat di Senayan. Menariknya, pada Pemilu 2009, sejumlah selebriti akan bertarung dengan kolega sendiri. Popularitas merupakan modal yang menjadi nilai lebih sang artis daripada calon lain. Bahkan disebut-sebut banyak caleg lain yang enggan berada di satu daerah pemilihan (dapil) dengan para selebriti.
Persoalannya kalau di luar negeri yang maju benar-benar orang yang mumpuni dan bisa menjanjikan perubahan. Lantas apa yang terjadi di Indonesia? Beberapa politisi dari kalangan artis seringkali terlihat kiprahnya hanya pada saat kurun waktu tertentu saja. Khususnya ketika akan ada pemilihan lagi!
Dan ekspresi mereka sebagai artis dan aktor juga masih sangat kentara.
Karakter orang di depan panggung seringkali berbeda dengan karakter sesungguhnya. Di “panggung belakang” (back stage), meminjam teori dramaturgis Erving Goffman, sang aktor suka mengelola kesan (impression management) untuk menutup karakter aslinya dengan riasan-riasan yang sesuai dengan tuntutan perannya di “depan panggung” (front stage). Tak jauh beda dengan realitas panggung sandiwara di kalangan politisi kita. Jangan-jangan panggung sandiwara akan mewarnai lagi kontes politik kita!
[mth]

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini