Sore tadi saya akan menebus resep obat dari dokter. Setelah dibaca sedikit, resepnya ada yang sama dengan obat yang biasanya saya persiapkan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara obat satunya belum pernah dapat.

Saya datang ke apotik KF-198, di kawasan percetakan negara, yang paling dekat dengan rumah. Prosedur layanannya standar seperti halnya apotik, kita diminta bayar dulu dan kemudian antri menunggu di panggil untuk menerima obat sesuai resep.

Tapi ada yang aneh, ketika saya coba tanya rincian harga masing-masing obat, untuk obat yang biasa saya persiapkan dibanderol dengan harga Rp5 ribu, padahal paginya di apotik yang sama saya beli obat tersebut untuk dua biji seharga Rp7.500 (dan waktu beli di apotik lain malah harga sebijinya Rp3.500).
Langsung saja saya bilang daripada beli satu lebih baik beli dua selisihnya juga sedikit. Sementara untuk obat satunya, petugasnya hanya bilang 50 ribu. Pas saya minta total berapa, dibilang habis Rp52.300. Ini yang tak masuk akal.

Mengalahkan rasa penasaran, saya bayar supaya obat bisa tertebus, dan setelah dikasihkan obatnya ada dua obat yang katanya seharga 5 ribuan itu. Saya jadi agak bingung, apakah memang begini ya standar layanan apotik?

Saya tidak bisa bayangkan, apabila, misalnya ada orang yang berada dalam kondisi emergency, kemudian dikasih resep dan segera ditebus, sementara ia tak tahu dengan detil resepnya (kadang dokter pun menuliskan resep dengan “tulisan dokter” yang sulit dibaca). Andaikan seharusnya ia cukup membayar Rp5 ribu, tapi oleh apotik malah diminta lebih dari itu? Wah tidak bisa bayangkan betapa dirugikannya konsumen yang beli obat sementara apotik, yang –untuk obat kemasan cuma sekadar menempel tanda apotiknya dan menuliskan dosis obat yang sudah tertera di resep- meminta tambahan lebih dari 20%.
[mth]

bagi yang ingin belajar baca resep dokter silahkan klik di sini!