Turut berbelasungkawa
atas meninggalnya Maftuh Fauzi, Mahasiswa Unas
Apapun penyebab kematian anda, semoga menemukan ketenangan di alam sana….
(Dan semoga tidak ada pihak yang memancing di air keruh atas meninggalnya saudara)
Aksi saling lempar batu antar demonstran dan aparat kepolisian di Universitas Nasional (Unas) yang berlanjut dengan fenomena pengerahan ratusan personel dan masuk ke areal kampus kini diungkap dan dipersoalkan kembali. Pasalnya, Maftuh Fauzi. salah seorang mahasiswa jurusan bahasa asing Unas, diberitakan meninggal Jumat (20/6).
Pasca “penyerangan aparat” ke Kampus UNAS, Maftuh bersama 30 mahasiswa UNAS lainnya ditahan di Polres Jakarta Selatan, dan Maftuh sempat ditahan sekitar 9 hari. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Maftuh telah dirawat di RSPP selama dua hari. Sebelumnya, ia sempat dirawat di Rumah Sakit UKI.
Pokok masalah bermula dari kesimpangsiuran penyebab kematian Maftuh, Pihak dokter dari RS UKI yang menanganinya saat itu mengatakan pembuluh darah bagian otaknya pecah. Hal ini kemudian yang dikaitkan dengan penyebab meninggalnya Maftuh lantaran adanya kekerasan fisik. Sementara ketika dibawa ke RS Pertamina Pusat, kematian Maftuh Fauzi, didiagnosa sebagai akibat infeksi sistemik yang menyerang hampir seluruh tubuhnya. Dari hasil rekam medis, mahasiswa angkatan 2003 itu mengalami infeksi di kedua lapangan paru-parunya dan terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh. Tidak ada tanda-tanda akibat penganiayaan (informasi dari Direktur Rumahsakit Pusat Pertamina, dr. Mustofa Fauzi, SpAn.).
Realitas Media dan Realitas Nyata
Di media diberitakan pula bahwa tindakan otopsi atas jenazah yang diminta polisi ternyata tidak disetujui oleh pihak keluarga. Beberapa rangkaian fakta inilah yang kemudian dijadikan dasar bahwa telah terjadi penganiyaan yang menyebabkan kematian kepada seorang mahasiswa Unas.
Dalam khazanah ilmu sosial, peristiwa yang terjadi secara kebetulan dianggap tidak relevan karena tidak bisa dibuktikan korelasinya dengan peristiwa lainnya. Kecuali jika hal tersebut terjadi berulang-ulang (ajek).
Namun, logika massa berbeda dengan logika keilmuan. “Penyerbuan polisi” akhirnya dikaitkan dengan adanya kekerasan, lantas berbuntut penganiayaan dan berujung pada kematikan. Selalu dengan logika sederhana seperti itu. Logika yang kerap dibentuk karena budaya tontonan yang menciptakan sebuah realitas di media. Padahal tak selamanya realitas di media sama dengan realitas senyatanya. Tapi apa lacur, pemerintah sudah berkurang kredibilitasnya, jadinya informasi yang dipercaya adalah informasi yang berada ada di belakang layar kaca. Informasi ini yang perlu dibuktikan kebenaranya. Tapi di negara ini siapapun bisa berkomentar dan sampaikan informasi. Itu yang saya suka. Persoalannya siapa yang mau bertanggung jawab atas setiap komentar yang ada dan kebenaran informasi itu? Asal jangan terlalu berpikir konspiratif!

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini