Beberapa hari terakhir, jelang pengumuman kenaikan BBM ada banyak iklan layanan masyarakat yang muncul di televisi. Bahkan setelah pengumuman kenaikan, pagi ini (24/5) beberapa media nasional dan mungkin juga lokal memuat pula iklan tentang kenaikan BBM.

Kalau di televisi appeal yang ditampilkan dan ditonjolkan adalah cita seorang perempuan. Dua menteri menjelaskan situasi dan ada yang menekankan “If I wish..“, mencoba berandai-andai… Sementara di koran ada banyak data yang ditampilkan cuma sedikit tidak bisa dibaca serta dilacak siapa pemasangnya. Jika anda cermat akan kutipan seperti disclaimer pada iklan rokok, mungin kesimpulan anda pasti akan sama dengan saya. Itu iklan pemerintah.

Memang tak ada larangan pemerintah beriklan. Bahkan (sayangnya saya tak punya data) sewaktu krisis tahun 97-98an dulu, yang turut menggairahkan dunia periklanan di Indonesia adalah iklan pemerintah. Ketika dunia usaha harus menghitung biaya produksi, maka orang-orang iklan secara kreatif mengajak pemerintah untuk beriklan.

Apa Harus Selalu Kaku?
Ada iklan yang ada di media massa. Beberapa sudah dikemas dengan bagus, namun yang lain masih dikemas dengan gaya yang tidak cerdas. Iklan TBC dan beberapa iklan kesehatan sudah bisa dikatakan dapat bersaing dengan iklan lain. Entah karena digarap profesional ataukan idenya benar-beran kreatif. Tapi ada pula yang digarap asal-asalan. Sama seperti iklan kebangkitan nasional yang dibuat departemen dengan potofolio komunikasi yang kelihatan tidak cerdas ketika disandingkan dengan buatan Sampoerna atau buatan stasiun televisi sendiri.

Mungkin sudah saatnya selain memanfaatkan iklan di televisi atau koran, pemerintah pun perlu dengan cerdas memilih fokus dan gaya penyampaian yang jauh lebih pas sehingga kesan kaku bisa hilang. Buktinya KPK pun bisa melakukannya dengan baik lewat iklan cetaknya.

Pemerintah Skotlandia pun juga mengembangkan pola edukasi masyarakatnya melalui iklan dalam beberapa permainan game konsol. Langkah ini untuk edukasi bahaya berkendara dalam keadaan mabuk. Iklan edukasi ‘jangan berkendara dalam keadaan mabuk’ ini dilontarkan Menteri Transportasi Skotlandia Stewart Stevenson. Ia mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas meningkat cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir ini dan dibutuhkan sebuah pendekatan untuk dapat menarik perhatian anak muda di Skotlandia. Pemerintah memperkirakan lebih dari 73 persen anak muda di Skotlandia, yang berusia sekira 15 hingga 24 tahun, memiliki akses untuk bermain game di rumah melalui perangkat game seperti Xbox.

Langkah pemerintah Skontlandia ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya pada bulan Oktober, sebuah badan intelijen juga melakukan hal serupa. Namun mereka menempatkan sebuah iklan lowongan kerja untuk menjadi agen mata-mata. Iklan ini terdapat pada game Tom Clancy’s Splinter Cell: Double Agent.

Soal iklan BBM, saya sebagai orang awam terus terang kebingungan juga dengan tampilan iklan display di beberapa media nasional. Seolah masyarakat diajak berpikir linier dan menebak arah pikir pemerintah yang itu-itu saja. Sejurus akhirnya subsidi dikurangi dan BBM naik. Rakyat harus menerima
Kutipan ini saya ambil dari tulisan Efendi Ghazali dari Universitas Indonesia:

“Salemba School”, sering merasa gusar dengan istilah “sosialisasi”. Menurut hemat kami, dalam civil society, yang jauh lebih penting dikedepankan adalah “konsultasi publik”, bukan sosialisasi. Istilah “konsultasi publik”-lah yang menjamin bahwa ruang publik memang ada fungsinya dalam formulasi kebijakan pemerintah. Sedangkan sosialisasi, dalam konteks Indonesia, cenderung mengarah ke kebijakan Orde Baru, yang selalu buat dulu peraturannya lalu disosialisasikan agar publik mau (baca: mesti) menerimanya!

Memang, pilihan yang diambil pemerintah senantiasa dua kata kunci Jaringan Kemitraan Strategis dan Sosialisasi.  Liat saja dalam link yang merujuk kepada Departemen yang mengurusi masalah komunikasi. Lantas bagaimana mau berubah jika pola yang dikedepankan adalah pendekatan yang lama seperti dulu. Mungkin sudah saatnya semua dibangunkan, bahwa kita telah berada pada ruang publik yang berbeda. Pada masa yang menuntut adanya cara dan pendekatan yang jauh lebih cerdas dan straight to the point, seperti telah diawali oleh KPK dengan langkah komunikasi yang jauh lebih elegan dan tak terlihat jaman dulu. Ah, capek deh!

[mth]