Kemarin malam ada lagi debat publik yang disiarkan langsung oleh sebuah televisi swasta. Debat diantara para kandidat Gubernur di Kalimantan Timur. Sebuah acara yang menarik. Lugas, straight to the point, dan saling serang. Sayangnya tidak semua pernyataan yang keluar adalah pernyataan cerdas. Semangat untuk saling menyerang dan menjatuhkan kandidat tidak dikemas dengan bahasa yang cerdas sehingga tak ubahnya sebagai debat yang berlangsung di kelas antar mahasiswa atau bahkan anak SMA. Pasalnya beberapa lontaran yang ada kerap jauh panggang dari api. Sebut saja ketika ada seorang kandidat yang mempermasalahkan situasi terkini, sementara kandidat lawannya adalah salah satu pejabat pemegang kebijakan. Akhirnya yang diserang adalah individu pejabat itu lantaran tidak bisa menyelesaikan persoalan terkini.
Bukan hal yang cerdas menurut saya ketika menyerang secara individual. Bisa jadi karena kita latah, dengan diskusi yang ada di luar negeri namun karena budaya demokrasi kita dan egaliterian masih gaya lama, akhirnya yang kemudian terjadi adalah menyerang karakter bukannya menyerang program. Logika yang dibangun pun masih cenderung sepotong-sepotong, lantaran budaya jargon masih teramat kental. Akan tetapi sebagai sebuah tontonan cukup menarik untuk melihat bagaimana kiprah calon pesilat lidah di kancah tampuk kekuasaan.
[mth]

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini