Seorang pencopet yang menjadi jendral. Ia mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang jenderal di pasukan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu pasukan pendudukan Jepang mundur pada tahun 1945 dan Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan tersebut. Pada awalnya semua itu dilakukan hanya sekadar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya, dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan.
Banyak yang mengatakan film itu mengingatkan orang akan sentimen dan nostalgia ke-Batak-an Indonesia.
Menjelang akhir 90-an, ketika pertama kali film besutan sutradara MT Risyaf itu diputar di bioskop, jujur saya tidak bisa memahami keseluruhan arti film itu. Ketika itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi kebanyakan anak seusia saya, hal-hal lucu dalam film itu saja yang jadi perhatian. Paling saya ingat adalah kalimat, “Bujang sudah kularang kau bertempur. Bertempur pulak lagi. Matilah kau sekarang dimakan cacing!” Bagi masyarakat Batak, nama “Bujang” tidak akan diberikan kepada anak siapa pun. Apalagi laki-laki. Tak berlebihan jika banyak yang merasa nama ini adalah penghinaan terhadap orang Batak, karena arti dari kata itu sangat kasar. Nilai kekasarannya sama dengan menyebut “mati Kau!”.
Terlepas dari beragam kekasaran dan beberapa bagian yang tampak janggal. Kini di tahun 2008, hampir 20 tahun kemudian. Film olahan cerita Asrul Sani itu dikemas kembali. Direstorasi, karena film seluloidnya sudah banyak bagian yang rusak termakan oleh usia dan kesalahan penyimpanan. Sebuah kondisi yang sangat menyedihkan. Cermin dari bagaimana dokumentasi kita atas karya-karya terbaik anak bangsa. Padahal film itu berhasil menyabet Piala Citra FFI 1987 untuk kategori film terbaik.
Konon, untuk merestorasi film Nagabonar, dibutuhkan biaya sekitar 3 milyar. Menurut penggagasnya, selama ini film dalam bentuk compact disk sudah sulit didapatkan di pasar. Kalaupun ada kualitasnya pun tidak cukup menyegarkan buat mata melihatnya. Konon pula, film yang dirilis tahun 1987 itu juga di-re-mastering untuk menyemangati bangsa ini dalam satu abad kebangkitan nasional.
Keprihatinan terhadap kondisi perfilman nasional yang kurang memberikan nilai pendidikan dan nilai moral bagi kalangan masyarakat mungkin mendorong upaya mereka ulang film Naga Bonar. Film yang sarat dengan nilai perjuangan bangsa meski dikemas dalam bentuk komedi. Tapi benarkah dibutuhkan re-mastering berbiaya besar untuk mengembalikan nuansa perjuangan film itu di masa kini? Tentu penggagasnya tidak bermaksud menyindir betapa besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangkitkan semangat bangsa ini dibandingkan dengan memproduksi film asal denganbiaya sepertiganya tapi tak memberikan nilai tambah atas pencerdasan bangsa ini.
Alih-alih menunjukkan bahwa betapa pentingnya dokumentasi atas karya terbaik bangsa, karena pada akhirnya biaya untuk mengembalikan sesuatu yang rusak akan sangat jauh lebih besar. Naga Bonar adalah salah satu contoh nyata bagaimana nasionalisme bangsa ini dikemas dan disajikan dalam bentuk yang populer: film. Tetapi, ironisnya untuk mengemas dan menyajikan “nasionalisme” itu di masa kini sangat dibutuhkan biaya yang cukup besar.
Tentu kita boleh berwacana ada yang salah dengan perjalanan nasionalisme kita. Rasa senasib seperti semasa pergerakan dan kemerdekaan kian menipis. Persatuan nasional yang dibangun dengan susah payah dalam perkembangannya menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Tanpa revitalisasi nasionalisme sulit dibayangkan seperti apa masa depan Indonesia. Ibarat tubuh tanpa roh. Tetapi kehadiran Naga Bonar versi re-mastering mungkin juga sebuah satir di tengah upaya beragam tanya tentang wujud nasionalisme yang kini menjadi bagian dari manusia Indonesia modern. Nasionalisme kedaerahan. Nasionalisme kesukuan. Nasionalisme religius. Nasionalisme partai. Nasionalisme kelompok. Dan beragam wajah nasionalisme lain yang membuat para pendiri republik seolah menjadi asing di negeri sendiri.
Bisa jadi semua itu karena nasionalisme baru dipahami sebatas semangat kepentingan sesaat. Bisa jadi karena nasionalisme belum dijadikan sebagai prinsip hidup yang mendorong untuk mengatasi beragam masalah bangsa dalam kemajemukannya. Bisa jadi pula nasionalisme belum menjadi motivasi untuk membangun negeri dan merebut peluang di era globalisasi. Dari pada bermain dengan berbagai kemungkinan dan mencari jawab yang pada akhirnya sering menunjuk orang lain sebagai kambing hitam. Lebih baik kita mulai dari diri sendiri. Tak perlu jadi Naga Bonar kedua dan seterusnya.
[mth]

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini