Kaum Timur, yang berdiam di berbagai kawasan Asia Timur termasuk Indonesia dan Melayu sangat dikenal dengan ciri sopan santun. Kesan tersebut banyak ditemukan dalam literatur ataupun catatan perjalanan yang terbit di negara-negara barat. Catatan itu mungkin muncul dari kesan pertama para pelancong terhadap komunitas di kawasan Asia Timur. Apakah karena tutur katanya yang santun, perilakunya sopan dan hormat sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Menarik sekali ketika orang timur dengan budaya yang berbeda, bisa dinilai orang barat sebagai komunitas yang santun. Karena, secara alamiah, orang akan menilai berdasarkan referensi pengetahuan yang ada di masyarakat dimana ia pernah tinggal.

Akan tetapi, jangan terburu berbangga hati dengan penilaian itu. Bisa jadi kesantunan yang dicerap orang barat sekadar dari penampilan luar saja. Sebuah penilaian yang menurut para orang bijak kadang kala dapat menipu. Buktinya banyak para penipu ulung yang perilakunya sangat hormat, tutur katanya memikat, padahal yang ada dalam hatinya cenderung merusak dan membahayakan orang lain.

La Bruyere, seorang filsuf Perancis, pernah menyatakan bahwa sopan santun tidak selalu menghasilkan kebaikan hati, keadilan, kepuasan, atau rasa syukur. Akan tetapi hal itu dapat memberikan seseorang paling tidak terlihat sopan, dan membuatnya tampak dari luar apa yang seharusnya menjadi benar-benar terhormat. Sebuah sikap yang bisa dimaknai agar orang tersebut lebih diterima dan dihargai dalam pergaulan sehari-hari. Apakah jika demikian kita harus pesimistis melihat perilaku santun seseorang memang ada udang di balik batu.

Tetapi, Andre Comte-Sponville, berkata lain. Menurutnya perilaku sopan-santun adalah merupakan perilaku tiruan dari tindak kebajikan. Sekalipun ia muncul sebagai ekspresi permukaan, namun sebagai sebuah kebajikan akan dapat memunculkan kebajikan-kebajikan yang sebenarnya. Mungkin hal terakhir inilah yang disaksikan para wisatawan mancanegara di kalangan orang-orang timur termasuk Indonesia. Sopan santun yang muncul pada bangsa Indonesia membuat senyum bangsa ini penuh dengan ketulusan tanpa ada keinginan untuk merusak.

Satu hal yang tak pernah disadari, bahwa kebanyakan wisatawan mancanegara datang ke Indonesia karena menilai Indonesia itu beda. Sayangnya, kebanyakan dari kita menganggap perbedaan itu hanyalah dari segi panorama alam, bukan dari ciri indegineous komunitas yang ada.

Boleh dikatakan bahwa sopan santun itulah yang menjadi pemicu antusiasme wisatawan mancanegara untuk datang dan menjelajah berbagai kawasan di Indonesia. Bukan lantaran keindahan alam Indonesia, sebab tempat asal mereka bisa jadi tak kalah indah dan eksotiknya dengan panorama pegunungan yang ada di Indonesia. Lihat saja perfektur pegunungan Swiss atau tempat lain.

Kesenian dan pertunjukan budaya yang mereka miliki juga tak kalah beragam. Bahkan secara tak disengaja meski direncanakan, melalui beberapa tour budaya yang digagas pemerintah, seni budaya Timur juga hadir dalam keseharian masyarakat barat. Festival budaya yang digelar di negeri Eropa misalnya, telah mendorong orang-orang barat menikmati kesenian dan budaya timur tanpa harus datang ke kawasan timur yang memakan waktu dan biaya.

Masalah lebih besar muncul ketika istilah beda yang dimaknai oleh wisatawan ditangkap berbeda sama sekali oleh orang-orang Indonesia. Lantaran hanya terdorong untuk menarik wisatawan bukan membuat satu ciri penanda yang beda, akhirnya malah menyajikan suasana yang kita persepsikan comfort bagi wisatawan asing dengan menyajikan berbagai ikon penanda kehidupan barat. Desain interior hotel, menu makanan dan sebagainya.

Lantas jika semua itu disuguhkan, di mana sebenarnya karakter pembeda bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Adakah kesantunan itu sedemikian lenturnya sehingga membiarkan tanda-tanda karakter kebangsaan ini luntur dan hanya menjadi bahan pembicaraan di atas kertas, namun jauh panggang dari api dalam realitas keseharian?

Oleh karena itu pekerjaan rumah terbesar adalah bagaimana memperkuat kesan pertama di kalangan wisatawan mancanegara dan terutama wisatawan domestik dalam setiap kampanye wisata. Bukan sekadar memoles hal-hal yang bersifat fisik belaka dan mengabaikan segi mental serta keramahan komunitas.

Jika logika ini dikembangkan tentunya kita tak perlu khawatir ketika banyak orang yang “membajak”“ budaya dan aneka kesenian dari Indonesia. Karena para wisatawan tentu akan selalu bisa melihat Indonesia yang beda dengan tempat yang lain. Tinggal berpulang kepada bangsa ini untuk memastikan perbedaan itu bisa dilihat dan dapat dinikmati bukan sekadar sebagai obyek wisata akan tetapi menjadi keseharian. Termasuk menjadi lebih santun.

[mth]