You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.
Istilah blue energy adalah istilah yang sering dipakai untuk menamakan sumber-sumber penghasil energi yang ramah lingkungan. Biru sering dianggap sebagai manifestasi langit biru ataupun laut biru yang jernih dan bebas polusi. Ada juga yang mengistilahkan sebagai green energy, karena dianggap energi yang ramah lingkungan.
Sumber energi yang disebut-sebut sebagai blue energy seringkali bersumber dari sumber energi terbarukan termasuk sumber-sumber energi non-fosil, atau lebih tepatnya non carbon based energy, artinya bahan dasarnya bukan berupa rantai karbon. Misalnya energi air laut, geothermal, angin, Surya, dan lain-lain. Namun sepanjang perjalanan sejarah, energi karbon masih merupakan energi termudah untuk diolah dan didapatkan, ditransport juga dimanfaatkan. Uraian lengkap Read the rest of this entry »
Pemadaman bergilir yang dilakukan PLN di beberapa daerah menuai protes dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari konsumen rumah tangga, kepala desa hingga pengusaha kecil dan besar. Pemadaman bergilir, sebagaimana diinformasikan oleh PLN terjadi karena belum beroperasinya beberapa pembangkit listrik baik karena alasan teknis operasional atupun kurangnya pasokan BBM.
Secara nyata, pasokan listrik yang tersendat sudah berlangsung bertahun-tahun. Bukan cuma kuantitas pasokan yang dikeluhkan konsumen, juga kualitasnya. Para pengamat menilai persoalan yang tak kunjung terselesaikan puluhan tahun ini berakar dari ketiadaan kebijakan energi nasional, sebagai bagian dari visi pembangunan nasional.
Dalam kajian Bank Dunia, kerugian dunia usaha akibat pemadaman listrik 6,1 persen dari penjualan total. Usia mesin dan segala peralatan yang digerakkan listrik menjadi lebih pendek. Saya pun pernah mengalami Read the rest of this entry »
Sabtu (24/5) minggu lalu, adalah hari pertama pencairan dana Bantuan Langsung Tunai untuk Rumah Tangga Miskin. Bantuan sebesar Rp300 ribu rupiah itu diberikan pada tahap pertama ke sepuluh kota besar di Indonesia. Meski pada awalnya banyak elit politik, tokoh masyarakat, bahkan para pejabat publik di daerah menolak, mencela sampai sekadar mempertanyakan, namun program itu tetap berjalan. Di lapangan, warga penerima BLT pun tidak ada yang protes. Kejadian yang menafikan komentar para analis, elit politik, tokoh masyarakat dan pejabat publik.
Sayangnya wacana yang berkembang di media massa masih cenderung negatif dan mengganggap satu kasus yang terjadi seolah-olah menjadi cermin penyimpangan dari keseluruhan program BLT-RTS. Walhasil, kondisi tersebut pada akhirnya mempengaruhi sikap dan perilaku yang berwujud penolakan Read the rest of this entry »
Beberapa hari terakhir, jelang pengumuman kenaikan BBM ada banyak iklan layanan masyarakat yang muncul di televisi. Bahkan setelah pengumuman kenaikan, pagi ini (24/5) beberapa media nasional dan mungkin juga lokal memuat pula iklan tentang kenaikan BBM.
Kalau di televisi appeal yang ditampilkan dan ditonjolkan adalah cita seorang perempuan. Dua menteri menjelaskan situasi dan ada yang menekankan “If I wish..“, mencoba berandai-andai… Sementara di koran ada banyak data yang ditampilkan cuma sedikit tidak bisa dibaca serta dilacak siapa pemasangnya. Jika anda cermat akan kutipan seperti disclaimer pada iklan rokok, mungin kesimpulan anda pasti akan sama dengan saya. Itu iklan pemerintah.
Memang tak ada larangan pemerintah beriklan. Bahkan (sayangnya saya tak punya data) sewaktu krisis tahun 97-98an dulu, yang turut menggairahkan dunia periklanan di Indonesia adalah iklan pemerintah. Ketika dunia usaha harus menghitung biaya produksi, maka orang-orang iklan secara kreatif mengajak pemerintah untuk beriklan.
Apa Harus Selalu Kaku? Read the rest of this entry »
Kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pengurangan subsidi BBM sudah diumumkan. Implikasi kebijakan ini adalah kenaikan harga BBM rata-rata sebesar 28,7% dari harga semula. Premium naik menjadi Rp6.000 dari Rp4.500 sebelumnya, solar menjadi Rp5.500 dari Rp4.300 dan minyak tanah menjadi Rp2.300 dari Rp2.000, Harga BBM baru ini mulai berlaku Jumat (23/5) tengah malam Pukul 00.00 WIB.
Sebelumnya kebijakan itu telah mendatangkan banyak perdebatan pro dan kontra. Mulai dari debat wacana di media massa hingga aksi demonstrasi berbagai elemen masyarakat yang telah berlangsung sekitar dua minggu. Keputusan pemerintah dinyatakan diambil atas dasar melonjaknya harga minyak di pasaran dunia yang sempat menyentuh 126 dollar AS per barrel pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Ketika subsidi masih diberikan, tentu akan membebani alokasi anggaran untuk program yang lain, yang lebih diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Sebuah logika yang jauh dari keseharian masyarakat miskin dan masyarakat kebanyakan seperti saya. Read the rest of this entry »
Kemarin malam ada lagi debat publik yang disiarkan langsung oleh sebuah televisi swasta. Debat diantara para kandidat Gubernur di Kalimantan Timur. Sebuah acara yang menarik. Lugas, straight to the point, dan saling serang. Sayangnya tidak semua pernyataan yang keluar adalah pernyataan cerdas. Semangat untuk saling menyerang dan menjatuhkan kandidat tidak dikemas dengan bahasa yang cerdas sehingga tak ubahnya sebagai debat yang berlangsung di kelas antar mahasiswa atau bahkan anak SMA. Pasalnya beberapa lontaran yang ada kerap jauh panggang dari api. Sebut saja ketika ada seorang kandidat yang mempermasalahkan situasi terkini, sementara kandidat lawannya adalah salah satu pejabat pemegang kebijakan. Akhirnya yang diserang adalah individu pejabat itu lantaran tidak bisa menyelesaikan persoalan terkini.
Bukan hal yang cerdas menurut saya ketika menyerang secara individual. Bisa jadi karena kita latah, dengan diskusi yang ada di luar negeri namun karena budaya demokrasi kita dan egaliterian masih gaya lama, akhirnya yang kemudian terjadi adalah menyerang karakter bukannya menyerang program. Logika yang dibangun pun masih cenderung sepotong-sepotong, lantaran budaya jargon masih teramat kental. Akan tetapi sebagai sebuah tontonan cukup menarik untuk melihat bagaimana kiprah calon pesilat lidah di kancah tampuk kekuasaan.
[mth]
Seorang pencopet yang menjadi jendral. Ia mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang jenderal di pasukan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu pasukan pendudukan Jepang mundur pada tahun 1945 dan Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan tersebut. Pada awalnya semua itu dilakukan hanya sekadar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya, dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan.
Banyak yang mengatakan film itu mengingatkan orang akan sentimen dan nostalgia ke-Batak-an Indonesia.
Menjelang akhir 90-an, ketika pertama kali film besutan sutradara MT Risyaf itu diputar di bioskop, jujur saya tidak bisa memahami keseluruhan arti film itu. Ketika itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi kebanyakan anak seusia saya, hal-hal lucu dalam film itu saja yang jadi perhatian. Read the rest of this entry »

Komentar Terakhir