Dalam negara demokrasi, keputusan pemerintah yang tidak populer akan berdampak negatif terhadap peluang pengembangan partisipasi publik atau warga negara. sebagaimana ungkapan Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat (1861-1865), “Bersama sentimen publik tidak akan ada yang gagal. Mengabaikannya, tidak ada yang bisa sukses”.

Salah satu konsekuensi logis gelombang demokrasi respons pemerintah yang berkesinambungan terhadap preferensi warga negara (Dahl, 1971). Secara konseptual hal itu dapat membuat mekanisme hubungan pemerintah dan rakyat dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

Oleh karena itu dibutuhkan upaya pemantauan opini yang berkembang di kalangan masyarakat (Mujani, 2004).
Apalagi di tengah masyarakat yang makin kritis terhadap program ataupun kebijakan pemerintah, harus ada upaya dari pemerintah untuk senantiasa peduli dan mewadahi ekspresi serta respons masyarakat atas segala kebijakan yang menyentuh kepentingannya. Pemantauan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pemantauan media, jajak pendapat singkat, atau survey yang melibatkan sebagian warga negara.

Memantau Media, Sebuah Kensicayaan
Keberadaan media massa juga memiliki fungsi korelasi, menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa, menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan, melakukan sosialisasi dan koordinasi. Di samping itu media juga sebagai sarana ekspresi budaya dan pelestarian nilai-nilai, serta sarana mobilisasi masyarakat di bidang politik, pembangunan ekonomi dan juga agama. Singkatnya, apa yang dimuat dalam media (isi media) merupakan cerminan berbagai peristiwa yang sedang terjadi dalam masyarakat.

Sebagai ruang publik media dapat berfungsi sebagai sistem alarm dengan sensor peka yang menjangkau seluruh masyarakat. Pertama, media bisa menerima dan merumuskan situasi problem sosio-politis. Keduam media juga menjadi mediator keanekaragaman orientasi nilai dalam masyarakat dan sistem politik yang ada.

Satu hal yang penting, bahwa realitas media dan realitas sosial yang dikonstruksi melalui institusi media sesungguhnya harus memperhatikan kepentingan berbagai kelompok masyarakat. Sehingga realitas sosial tersebut merupakan hasil dari konstruksi bersama yang ditujukan untuk pembentukan kehidupan yang lebih baik.

Sebuah Pertanyaan?
Repotnya jika ada penyederhanaan bahwa pemberitaan oleh media massa yang terus menerus dianggap sebagai opini publik masyarakat. Namun, seringkali sebagian besar orang di bawah sadarnya mengangggap itulah yang disebut dengan opini publik. Padahal, apa yang diberitakan oleh media massa belum tentu juga sama dengan pendapat dan persepsi masyarakat terhadap sesuatu hal atau isu. Atau,  bahkan tidak jarang malah tidak sama dan sebangun dengan pendapat masyarakat.

Akan tetapi, sejauh kita memahami opini publik adalah apa yang dipikirkan dan apa pendapat masyarakat maka kita akan mengetahui bahwa pikiran dan pendapat itu selalu terbuka, selalu mengalami pembaharuan atau peneguhan dengan memaknai setiap informasi yang baru, selalu mencari argumentasi yang bisa diterima akal dan perasaan, selalu membandingkan dengan realitas yang terjadi dan akan berkembang.

[mth]