You are currently browsing the daily archive for Februari 26th, 2008.
Sejak pertama kali ide ini dilontarkan sudah banyak silang sengkarut pendapat yang menyertai kelahirannya. Tapi layaknya semua kebijakan pemerintah, seketika disajikan dalam lembaran negara, lantas semuanya menjadi sah untuk umum. Artinya, orang cilik sampai orang pejabat sudah dianggap tahu. Lantas apa yang terjadi?
Melihat fenomena liputan media massa mengenai busway terlihat cukup menarik. Pasalnya media terlihat tidak konsisten dalam melakukan coverage isu ini dari awal sampai akhir. Apakah karena adanya pola jurnalisme katanya, ataukah karena kehebatan program komunikasi yang dijalankan pejabat publik. Ini satu hal yang perlu ditelusuri dalam riset khusus.
Sebagai konsumen sederhana saja berpikirnya, saya jadi ragu dengan lontaran-lontaran data yang dikemukakan oleh pejabat publik yang berkaitan dengan solusi kemacetan di ibukota ini. Ada yang bilang 14% pengendara mobil telah pindah ke busway. Sementara yang sisanya, 86% (angka yang menurut saya besar sekali) itu limpahan dari mana. Tak ada penjelasan. Media pun seolah berspekulasi dan pada gilirannya menumpulkan rasa ingin tahu masyarakat.
Ketika tahun-tahun pertama berada di ibukota, saya adalah pengguna setia busway. Cukup nyaman di awal-awal kehadirannya. Namun, menjelang bulan ke delapan, setiap ketika mau naik moda yang menjadi solusi kemacetan itu saya harus mengantri. “Memang. macetnya tidak di jalan, tapi macetnya ada di halte-halte busway,” pikir saya.
Apa daya, uang cekak dan harus sampai kemana-mana. Busway jadi pilihan. Apalagi, saya bukanlah orang yang memiliki kendaraan umum. Jadi, saya turut protes kepada para pejabat yang tidak menjelaskan angka 86% sebagai keterwakilan diri saya.
Apakah memang selalu begitu cara berpikir para pejabat publik kita dalam menelurkan kebijakan? Dan akhirnya media pun seolah ikut turut dalam “proyek pembodohan” yang dilakukan pejabat publik. Semoga tengara yang terakhir ini tidak benar adanya.
[mth]

Komentar Terakhir