Dalam ruang kelas seorang siswa bangga menunjukkan gelang putih  di tanganya. Gelang itu diperoleh dari artis idolanya dalam sebuah kampanye. Lantaran gelang itu diberikan langsung oleh sang artis, kontan cerita dari mulutnya meluncur tak habis-habis. Mulai dari bagaimana asal muasalnya bisa bertemu, warna baju sang artis saat kampanye, hingga gosip terkini tentang sang artis. Ia dengan bangga menyebut artis idolanya telah menjadi duta kampanye.

Duta. Saat ini seolah bagian tak terpisahkan dalam kegiatan kampanye. Mulai dari minuman sehat, makanan sehat, penanggulangan penyakit hingga perilaku adaptasi sebuah inovasi dan temuan baru.
Hal ini memang sebuah keniscayaan dalam program komunikasi kampanye. Apalagi secara kultural, bangsa kita masih cenderung untuk mengedepankan ketokohan sebagai panutan. Orang bisa berubah ketika ada contoh. Orang bisa melakukan sesuatu ketika ada contoh dan panutan.

Sekalipun, dalam batas-batas tertentu, pola ketokohan itu telah bergeser. Jika dulu ketokohan bisa lantaran adat kebiasaan atau jabatan, sekarang pub bisa disahkan lewat kehadiran si kotak ajaib: televisi. Walhasil, pola kemasan dan “polesan”-lah yang kian menguat sesuai dengan karakter televisi.

Kalau dulu ada pepatah banyak jalan ke Roma, mungkin saat ini bisa dikatakan ada banyak jalan dan alasan seseorang menjadi duta. Ada pula yang karena imej dan kepedulian sang tokoh terhadap hal yang dikampanyekan. Namun ada pula yang dipilih karena subyektifitas para pemegang keputusan dalam kampanye. Sehingga terkesan asal jadi.
Dalam cerita wayang, kita mengenal Sri Kresna, titisan Dewa Wisnu. Seorang ksatria berkulit hitam sakti mandraguna. Dikisahkan dalam Mahabarata, Kresna sangat terkenal lantaran kecerdasan dan kepandaiannya bicara. Sebelum perang besar Bharatayudha, Kresna menjadi utusan Pandhawa yang datang ke pihak Kurawa. Lakonnya diabadikan dalam “Kresna Duta”.

Ketika lakon “Kresna Duta” digelar, si dalang menggiring perhatian para penonton dalam episode sebelum terjadinya perang besar Barathayuda. Kresna didaulat oleh saudaranya Pendawa untuk meminta kembali tahta kerajaan yang menjadi haknya yang dipegang oleh Kurawa. Para Pendawa menggunakan manuver pendekatan ke-dewa-an Kresna. Dengan harapan Kurawa akan segan untuk bertingkah macam-macam.

Apa lacur, cara berpikir Pendawa ternyata bertolak belakang dengan jalan pikir Kurawa. Ternyata, kehadiran Kresna sebagai seorang duta tidak berarti apa-apa di mata para Kurawa. Kresna pun pulang dengan tangan hampa.
Pendawa kalau bisa dikatakan telah terjebak dalam sistem simbolik. Ketika ia meminta Kresna sebenarnya ia ingin membuat Kurawa segan atas status ke-dewa-an Sang Kresna dan memenuhi permintaan Pendawa. Tapi bahasa simbolik yang digunakan Pendawa tidak diterjemahkan sama oleh Kurawa.

Jika dilihat dalam kasus kegiatan kampanye yang ada di Indonesia, tampaknya Balada Sang Kresna juga terjadi. Dari sekian banyak duta diangkat dan ditahbiskan sebagai “punggawa kampanye” pada akhirnya ia  sekadar tampil di layar kaca. Keliling Indonesia pun bisa dikatakan hanya sampai di kota besar belaka. Sekalipun itu sah karena kebanyakan penduduk kita hidup di kota-kota besar. Namun satu hal perlu dicatat, dalam layar kaca banyak tercampur antara realitas dan irrealitas. Bisa jadi penonton pun hanya sekadar menganggapnya sebagai tontonan bukan tuntunan.

Di sisi lain, kampaye apapun jelas tak bisa lepas dari kebhinnekaan Indonesia. Konsekuensinya tak mudah menyampaikan pesan yang sama dan simultan kepada beberapa komunitas berbeda. Ketika sang duta bukan dari latar belakang kultural yang sama dapat dipastikan akan muncul distorsi dan penyimpangan informasi.

Keberhasilan seorang duta, seperti cerminan kisah Sang Kresna, bukan sekadar ketokohan belaka, namun juga kedekatan. Kedekatan akan keseharian dan upaya menyelami keinginan dan kebutuhan para Kurawa yang memiliki kebiasaan dan pola pikir tertentu.

Memang, tidak ada duta yang paripurna yang bisa menyatukan dalam kebersamaan. Bahkan Sang Kresna sebagai seorang dewa pun tak bisa menjalani peran duta dengan baik. Akhirnya sang pencerita berupaya menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Kresna sudah cukup. Ia telah menjadi “penyampai” keinginan Pendawa sekalipun tidak terwujud. 
Sama halnya dengan cerita siswa yang mendapat gelang putih di awal tulisan ini. Seminggu kemudian, ia mulai melepas gelangnya dan menggantinya dengan kaos berlogo kampanye lain. Secara berkelakar, seorang teman menyebut semua ini sebagai ekspresi budaya slogan. Benarkah?
[mth]