Sebuah stasiun televisi (tampaknya bermaksud kreatif) untuk menyajikan tayangan yang bersifat mendidik. Menggabungkan antara temuan fakta kejadian kecelakaan di Km 47 dengan komentar para penyidik dan “analisis” public figure atau artis. Namun, jika menyaksikan hingga akhir saya melihat kurang cerdasnya kerja jurnalis, yang mungkin memaksudkan tayangan ini sebagai sebuah produk investigasi.

Ketidakcerdasan ini tercermin dari dua hal. Pilihan narasumber dan logika narasi yang dibangun. Pemilihan artis untuk memberikan komentar –bukan analisis dan juga saya kira tidak spesifik  ditujukan untuk liputan ini– terasa dipaksakan. Sementara logika yang dibangun pun terkesan bahwa kerja jurnalistik yang dilakukan tak memahami konteks masalah. Jurnalis hanya menyandarkan pada sumber penyidik (kepolisian) dengan berbagai analisis penyidikan, tanpa melakukan cross-chek terhadap pihak lain seperti regulator yang melakuan uji berkala, pengelola angkutan dan terutama penyedia infrastruktur. Walhasil, liputan yang sekiranya dibikin untuk follow up atas analisis penyidik pada akhirnya membuat pemirsa menganggapnya sebagai spekulasi-spekulasi.

Atau mungkin pembuatnya hanya berharap pemirsa televisi hanya sekadar menganggapnya sebagai sebuah tontonan belaka. Setelah itu tak berbekas apapun. Sama seperti kacang, habis dimakan tapi tak mengenyangkan. Sekadar tontonan tapi tak mencerdaskan. Ya itulah Indonesia!

[mth]