You are currently browsing the monthly archive for November 2007.
Dalam ruang kelas seorang siswa bangga menunjukkan gelang putih di tanganya. Gelang itu diperoleh dari artis idolanya dalam sebuah kampanye. Lantaran gelang itu diberikan langsung oleh sang artis, kontan cerita dari mulutnya meluncur tak habis-habis. Mulai dari bagaimana asal muasalnya bisa bertemu, warna baju sang artis saat kampanye, hingga gosip terkini tentang sang artis. Ia dengan bangga menyebut artis idolanya telah menjadi duta kampanye.
Duta. Saat ini seolah bagian tak terpisahkan dalam kegiatan kampanye. Mulai dari minuman sehat, makanan sehat, penanggulangan penyakit hingga perilaku adaptasi sebuah inovasi dan temuan baru. Read the rest of this entry »
Manusia dalam setiap zaman selalu menghadapi tantangan, problema-problema yang membutuhkan suatu bentuk penyelesaiaan. Teknik dan metode manusia dalam merespons tantangan inilah yang menjadi catatan sejarah kehidupan manusia dari masa ke masa. Menurut sejarawan, Toynbee, ada hal-hal spesifik dalam kurun waktu tertentu pergumulan karakter manusia dengan situasi dan cara manusia merespons situasi tersebut. Termasuk terhadap bencana.
Bencana, dapat dimaknai sebagai dua sisi laiknya mata uang. Musibah sekaligus berkah. Kondisi dan kenyataan hidup yang harus ditanggung para korban adalah satu sisi dari “mata uang” bencana. Sementara, di sisi lain, kepedulian terhadap kemanusiaan yang bisa dilatarbelakangi kepentingan politik, bisnis bantuan, dan berbagai semangat filantropis berlumuran pamrih bisa tumbuh dan berkembang. Secara sosial bencana telah menyebabkan masyarakat berjarak dari norma-norma, ritme kehidupan dan nilai-nilai yang sudah mereka jadikan pegangan dasar kehidupan keseharian. Bangunan sistem sosial yang telah selama ini memberi makna, norma dan aturan peran yang jelas dan dipahami bersama tiba-tiba runtuh bersamaan dengan terganggunya lingkungan fisik mereka.
Sebuah stasiun televisi (tampaknya bermaksud kreatif) untuk menyajikan tayangan yang bersifat mendidik. Menggabungkan antara temuan fakta kejadian kecelakaan di Km 47 dengan komentar para penyidik dan “analisis” public figure atau artis. Namun, jika menyaksikan hingga akhir saya melihat kurang cerdasnya kerja jurnalis, yang mungkin memaksudkan tayangan ini sebagai sebuah produk investigasi.
Ketidakcerdasan ini tercermin dari dua hal. Pilihan narasumber dan logika narasi yang dibangun. Pemilihan artis untuk memberikan komentar –bukan analisis dan juga saya kira tidak spesifik ditujukan untuk liputan ini– terasa dipaksakan. Sementara logika yang dibangun pun terkesan bahwa kerja jurnalistik yang dilakukan tak memahami konteks masalah. Jurnalis hanya menyandarkan pada sumber penyidik (kepolisian) dengan berbagai analisis penyidikan, tanpa melakukan cross-chek terhadap pihak lain seperti regulator yang melakuan uji berkala, pengelola angkutan dan terutama penyedia infrastruktur. Walhasil, liputan yang sekiranya dibikin untuk follow up atas analisis penyidik pada akhirnya membuat pemirsa menganggapnya sebagai spekulasi-spekulasi.
Atau mungkin pembuatnya hanya berharap pemirsa televisi hanya sekadar menganggapnya sebagai sebuah tontonan belaka. Setelah itu tak berbekas apapun. Sama seperti kacang, habis dimakan tapi tak mengenyangkan. Sekadar tontonan tapi tak mencerdaskan. Ya itulah Indonesia!
[mth]

Komentar Terakhir