Saya malu pada para petani kita, kata seorang teman. Bayangkan, kita tiap hari makan beras dari padi yang mereka tanam. Sementara, belum tentu mereka bisa makan beras setiap hari. Sontak saya berkomentar, bisa jadi tidak makan nasi itu pilihan mereka juga, ucap saya setengah protes.

Kegundahan teman saya itu diungkapkan saat acara makan siang bersama di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta Utara. Tentunya sedikit banyak hal itu menohok batin saya yang sedang mengunyah irisan daging rendang beserta nasi punel yang lumayan enak. Sekalipun dalam rangka kegiatan seminar yang jarang pula saya ikuti undangannya.
Jangan hal itu membuat anda tidak enak, sergah teman saya. Sejurus kemudian ia mengungkap bahwa sekarang perasaannya sudah agak mendingan. Karena di rumahnya di kawasan Bogor, ia telah menyerahkan pengolahan satu hektar tanahnya pada dua keluarga petani.

Saya tak mau tahu mau diapakan tanah itu, hasilnya boleh mereka makan, boleh buat sekolahkan anak-anak mereka, yang penting tiap bulan ada sekantung beras untuk kebutuhan sebulan di rumah.Teman saya adalah seorang pekerja keras. Karena itu ia melakukan hal yang sama terhadap petani penggarap tetangganya itu. Mereka pun harus bekerja keras. Karena mereka tak punya tanah, silahkan kerjakan saya punya tanah. Toh saya juga tak mungkin melakukan hal itu sendirian sembari bekerja di instansi pemerintah.

Kerja keras sebagian orang Indonesia, seringkali hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perut. Kebutuhan yang lain adalah barang yang tidak terlalu penting. Bukan barang primer, kalau dulu diajarkan di kelas pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Kebutuhan akan pangan akhirnya menjadi sebuah kewajiban. Namun bagimana pemenuhannya bisa jadi berbeda bagi setiap orang dan kebudayaan.  Ada yang dicukupi dengan beras atau nasi. Ada pula yang dicukupi dengan sagu, ada pula yang jagung. Tak ada perbedaan, semuanya berpulang pada kebiasaan. 

Atas nama kebiasaan pula, mungkin pemikiran teman saya di atas akan menjadi hal yang aneh. Karena kita terbiasa memakan nasi, maka terkadang kita tak peduli pada orang lain yang tidak bisa memakan hal yang sama dengan kita. Atau jika muncul kepedulian, akhirnya kita berupaya untuk memastikan bahwa mereka pun harus memakan hal yang sama dengan kita: nasi. Padahal, sekalipun kebutuhan sama namun keinginan setiap orang bisa saja dan boleh saja berbeda.

Kegundahan teman saya adalah kegundahan yang mungkin berumur ratusan tahun bahkan berabad-abad. Namun seringkali kegundahan itu tertutup oleh kilasan peristiwa dan kemonceran peringatan sesaat yang bisa melupakan memory jangka pendek manusia. Laiknya lebaran tahun ini.

Berbondong-bondong orang datang ke pusat perbelanjaan. Uang THR, uang insentif yang dida-pat pegawai (kecuali pegawai negeri sipil dan pejabat), digelontor sedemikian rupa hingga ludes dalam hitungan hari atau bahkan jam.
Bahkan kabarnya, Bank Indonesia pun harus menggelontor sekian triliun untuk mengantisipasi belanja ketika lebaran ini. Lantas ketika uang itu berputar selama hitungan hari, terus kemana lagi uang tersebut bergulir dan bermuara?

Alih-alih mempertanyakan, kita pun kadang sibuk mencatat dan membuat hitungan di atas kertas bahwa ada perputaran modal sekian sekian. Ini menunjukkan kontribusi positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Cuma masalahnya masyarakat yang mana? Muara perputaran arus uang tadi pun tak pernah tuntas dijawab oleh rumput yang bergoyang.
Usai perbincangan dengan teman saya saya, sebenarnya saya masih menyimpan pertanyaan -yang rasanya tak etis untuk disampaikan langsung kepadanya. Karena ketika ia menunjukkan kepe-duliannya ia ternyata juga meminta imbal balik dalam bentuk beras.

Tapi itulah kehidupan. Kita tak bisa sepenuhnya mengkhayal, menggambar dan mencipta suatu relasi yang ideal. Karena yang ideal hanya di atas kertas.

[mth]