Di sebuah ruang klinik tempat praktek dokter, seorang pasien perempuan duduk terpekur. Sesekali ia memegang salah satu bagian perutnya yang terasa sakit beberapa bulan terakhir. Sudah berpuluh butir obat masuk melewati kerongkongannya, namun belum juga kesembuhan atas gejala liver yang diidapnya.
Kali ini adalah kunjungannya ke lima dalam sebulan terakhir. “Dok, bagaimana bisa saya menghadapi bulan puasa jika saya mesti menanggung sakit ini,” katanya mengiba. Dengan tenang si dokter menjawab, “Bu, dalam ajaran yang saya pahami, puasa itu tidak dipaksakan bagi orang yang mengalami sakit atau ada halangan tertentu. Sebagai gantinya, kita harus memberikan makan pada orang, sama seperti yang kita makan,” kata dokter bak ulama.
Sejenak sang ibu menghela nafas. “Bu, ada dua hal yang bisa kita dapat. Pertama, ibu tetap memberi makan tubuh sendiri yang membutuhkan makanan untuk penyembuhan. Dan kedua, ibu bisa berbagi dengan orang lain yang tidak mampu dengan memberikan makanan sebagaimana dikonsumsi seperti hari ini,” jelas dokter.
Memang hikmah dibalik pengecualian puasa adalah berbagi dengan orang lain tanpa membahayakan diri sendiri. Solidaritas sosial dibentuk melalui tindakan nyata. Solider –kata anak muda sekarang– terhadap sesama yang
belum bisa menikmati rejeki sebagaimana kita rasakan. Dalam kamus bahasa, solidaritas adalah sifat perasaan satu rasa, senasib sepenanggungan, perasaan setia kawan. Solider sendiri merupakan ekspresi individu yang memiliki sifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu baik karena senasib, sehina, semalu dan sejenisnya.
Bangsa Indonesia, dalam sejarahnya sangat kental dan akrab dengan kata solidaritas. Secara nyata, solidaritas antar warga di Indonesia sangat tinggi. Bahkan bisa dikatakan merupakan nilai dasar dari bangsa yang besar ini. Dasar negara Indonesia pun sangat kental nuansa solidaritas tersebut. Namun tidak jarang pula solidaritas ini jadi kebablasan,
menjadi terlalu berlebihan dan terlalu tinggi. Bahkan terkadang solidaritas pun lebih banyak muncul dalam hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Ambil contoh pelanggaran aturan yang seolah menjadi kebiasaan dan kewajaran. Betapa banyak pengguna jasa kereta api mengabaikan peraturan yang ada. Di stasiun kereta, jelas-jelas terpampang sebuah aturan yang kurang lebih mengharuskan penumpang harus memiliki karcis. Akan tetapi saat kereta berjalan, tidak hanya sekali dua kali hal menyedihkan terjadi. Ketika petugas pemeriksa karcis berkeliling, ada penumpang tanpa membawa karcis yang terjadi selanjutnya: penumpang berbasa-basi, memposisikan diri sudah akrab dengan petugas dan setelah jabat tangan dengan terselip beberapa lembar uang berikutnya petugas berlalu begitu saja. Apakah ini solider sebagai ekspresi solidaritas?
Penilaian benar salah jelas bukan tempatnya di sini. Karena benar salah akan sangat tergantung ruang dan waktu. Namun perlu dicatat bahwa masyarakat yang solider tumbuh dari kesadaran kesatuan manusia. Penderitaan yang dialami orang
lain merupakan penderitaan seluruh manusia. Kendati demikian, solidaritas tidak akan pernah menyeruak keluar tanpa dibarengi dengan niatan baik dan kerja yang konsisten.
Solidaritas adalah bentuk kewajiban moral manusia. Yang lebih mengemuka kemudian adalah penilaian tentang baik dan buruk. Besaran manfaat atau malah kerugian yang didapat. Karena itu sudah saatnya menempatkan semangat solidaritas pada tempatnya. Dan hal ini haruslah dimulai dari kesadaran. Tanpa kesadaran hanya akan menjadi solidaritas semu belaka.
[mth]

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini