You are currently browsing the monthly archive for September 2007.

Di sebuah ruang klinik tempat praktek dokter, seorang pasien perempuan duduk terpekur. Sesekali ia memegang salah satu bagian perutnya yang terasa sakit beberapa bulan terakhir. Sudah berpuluh butir obat masuk  melewati kerongkongannya, namun belum juga kesembuhan atas gejala liver yang diidapnya.

Kali ini adalah kunjungannya ke lima dalam sebulan terakhir. “Dok, bagaimana bisa saya menghadapi bulan puasa jika saya mesti menanggung sakit ini,” katanya mengiba. Dengan tenang si dokter menjawab, “Bu, dalam ajaran yang saya pahami, puasa itu tidak dipaksakan bagi orang yang mengalami sakit atau ada halangan tertentu. Sebagai gantinya, kita harus memberikan makan pada orang, sama seperti yang kita  makan,” kata dokter bak ulama.

Read the rest of this entry »

Jika anda pegawai rendahan, memiliki sedikit kemampuan, dan bisa bekerja dengan sigap. Bersiap-siaplah untuk menjalani hidup dalam situasi serba mendadak. Pasalnya, atasan anda cenderung menumpukan beberapa pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan dengan cara biasa kepada anda.

Read the rest of this entry »

di tengah makin beragamnya sumber informasi (multy source information), banyak instansi pemerintah yang telah mengembangkan media berita baik dalam bentuk tercetak maupun dalam format elektronik dan multimedia.

Reformasi telah mengubah peta kompetisi dan kepemilikan media massa di Indonesia. Sejak keran kebebasan pers dibuka yang diiringi deregulasi di bidang pers dan penyiaran, dunia informasi dan komunikasi serta media massa boleh dikatakan mengalami booming.  Di Indonesia masa lalu hidup dan perkembangan media cetak sulit bisa dibayangkan karena adanya peraturan tentang SIUPP. Izin untuk menerbitkan koran, misalnya, bisa mencapai ratusan juta rupiah, sehingga tak semua pihak memiliki kesempatan untuk menerbikan media cetak. Read the rest of this entry »

Setiap orang butuh sehat, karena itu informasi mengenai kesehatan menjadi sangat penting dan bisa jadi paling dibutuhkan. Kalau di desa –seperti dinyatakan oleh teman saya– beberapa bidan dan mantri desa menjadi sumber referensi penting. Cuma untuk menjadi sumber informasi penting tak bisa semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu tahunan dan butuh banyak “hidup bersama” dan berkata sesuai dengan cara penduduk dan mengubah perlahan cara berpikir penduduk di sekitarnya. Ini lah yang mungkin menjadi jawaban mengapa tak semua bidan atau petugas kesehatan diterima dengan mudah di tengah masyarakat dan “terpaksa” kembali ke rumah.

Read the rest of this entry »