Membumikan Kampanye Energi Alternatif  (2)

Di  dunia maya sudah tak terhitung lagi puluhan  “situs  promosi” mengenai energi alternatif yang didukung pemerintah, ratusan blog  juga tersebar memuat ratusan artikel yang bisa diakses langsung. Belum lagi liputan dari media massa umum ataupun  beragam paket kampanye lain yang bertajuk sosialisasi.

Siang itu, Set Malelak (45), dosen sebuah perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur sibuk mempersiapkan diri dan menata rumahnya. “Ada rombongan peserta seminar di Kupang, ibukota provinsi yang ingin melihat Kampung Uel ini,” katanya sekilas dengan senyum khas.
Sudah tak berbilang berapa kali rumahnya  yang sederhana kedatangan tamu dari pusat bahkan dari luar negeri. Untuk mengetahui lebih dalam bagaimana  seorang Set, yang lebih suka disebut Dosen Desa, mengubah kebiasaan masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan membuat seluruh warga Kampung Uel bisa menghasilkan produk unggulan berbasis jagung.
“Para pengunjung seringkali kagum tentang bagaimana Pak Set bisa menyatukan kami dari beragam latar belakang suku dan kemudian mendorong kami para petani untuk bisa mengembangkan potensi jagung di kampung yang cukup tandus ini,” kata Om Kos, Ketua Kelompok Tani Tirosa Desa Uel.
Secara bersahaja, Set mengelak jika semua ini atas upaya pribadinya semata,”Kemauan teman-teman semua di sini untuk berubah juga kuat. Tapi, ya itu, tidak semua bisa langsung seketika, saya perlu waktu sembilan tahun untuk bisa menghasilkan seperti yang anda lihat ini,” jelas bapak dua anak ini sambil memperlihatkan berbagai produk jagung.

Sosialisasi Sebenarnya
Dalam kerangka text book di perguruan tinggi, apa yang dilakukan Set adalah contoh nyata sosialisasi yang sesungguhnya. Ketika sebuah pemikiran baru diperkenalkan, diperdebatkan serta disepakati bersama untuk menentukan arah perubahan dalam komunitas kampung tersebut.
Set, dosen teknik yang merelakan tinggal di desa ketimbang menikmati fasilitas perumahan dinas mungkin menjadi salah satu saksi hidup bagaimana melakukan sosialisasi hingga berbuah perubahan kebiasaan masyarakat tani yang hidup di Indonesia.
Sekian waktu dibutuhkan, sekian sumber daya dan bahkan tenaga dikerahkan untuk menjadi teman belajar dan berdiskusi bagi masyarakat desa. Selama satu dekade terakhir ia bersama keluarganya telah menghabiskan waktu untuk mencari potensi dan mengenalkan cara serta teknik pengolahan pertanian jagung yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat selama ini.
Bahkan dengan mengetahui karakter tanah dan mengamati kecenderungan perubahan alam tempat tinggalnya, mereka kini bisa mengembangkan mutu hasil panennya agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Cermin Kampanye Energi
Belajar dari yang dilakukan seorang Set, sosialisasi tidak bisa dilakukan dalam hitungan jam, namun lebih dari itu, perlu berbulan-bulan untuk meyakinkan perubahan dan butuh waktu tahunan untuk menyaksikan perubahan dijalankan secara konsisten oleh warga masyarakat.
Menariknya, ketika hal ini coba dikaitkan dengan kegiatan kampanye energi alternatif, laksana bumi dan langit. Sekalipun dalam pilihan media dan gebyar promosi, apa yang dilakukan Set kalah, namun dalam aspek keluaran atau output upaya Set tidak boleh dipandang remeh.
Bukan berarti, aneka tayangan iklan layanan masyarakat ataupun kegiatan sosialisasi dalam bentuk variety show atau berbagai forum, penggunaan multimedia melalui website untuk kampanye mengenai energi alternatif tidak perlu. Namun ada aspek lain yang hendaknya menjadi perhatian, keterlibatan warga secara aktif untuk melakukan dan menyaksikan sendiri hasil kerja keras yang mereka lakukan.

Ubah Keyakinan, Bukan Kebiasaan
Kampanye energi alternatif sebagaimana muncul dalam diskusi antara penulis dengan Set sejatinya merupakan kegiatan yang akan mengubah keyakinan seseorang. “Bukan sekadar mengubah kebiasaan, bayangkan kalau dulu anda melihat dan meyakini kotoran sapi itu tidak baik atau bahkan ada yang menyebut najis, tetapi sekarang bisa diolah untuk bahan bakar. Untuk memasak makanan yang akan anda makan, apakah itu tidak sangat terkait dengan keyakinan?” cetusnya retoris.
Memang dalam kasus energi alternatif, akan semakin banyak perspektif dan opini yang berkembang. Belum lagi soal kesalahan persepsi yang sering menjadi penyebab munculnya resistensi atas kebijakan energi.  Sebut saja adanya bias bahwa kayu bakar merupakan bahan bakar yang hanya untuk orang pedesaaan.
Padahal sebagai salah satu bagian dari evolusi konsumsi energi di negara ini sebenarnya keberadaan kayu bakar masih sangat wajar. “Karena banyak warga masyarakat yang masih tinggal di pedesaan dan lebih mudah memperoleh kayu bakar ketimbang minyak tanah yang sering terlambat distribusinya,” terang Set.
Kayu bakar yang biasa digunakan oang desa pun kebanyakan dari ranting bukan dari batang kayu besar yang selama ini dikaitkan dengan ketakutan habisnya hutan karena diambil sebagai kayu bakar.
“Jika pun mereka mengambil kayu besar pasti mereka akan menanam kembali. Hanya orang kota yang menebang hutan,” celetuk Sam, salah seorang petani di Uel.

Tak Berbasis Kondisi Lokal
Hal kedua yang juga layak dicermati adalah adanya kesenjangan antara potensi energi yang sebenarnya dan kenyataan krisis energi. Di beberapa kawasan khususnya daerah luar jawa dan kawasan pedalaman, kata-kata krisis energi belum menjadi common sense atau kesadaran umum. “Hingga detik ini pun untuk mendapat minyak tanah juga sulit. Kadang ada kadang tidak ada,” kata Sam.
Secara kritis Set mengomentari masalah penanaman jarak sebagai sebuah kebijakan salah kaprah,”Tanam jarak, rumput mati. Kemudian ternak kami makan apa? Apa bisa bapak, sapi kami, kambing kami disuruh makan daun jarak, terus tanah yang ditanami jarak pasti tidak bisa ditanami yang lain lagi. Apakah nantinya minyak jarak itu untuk kita atau malah diekspor untuk menjalankan mobil-mobil orang kaya di luar negeri?” ungkapan retorik kembali meluncur dari mulut Set.
Penulis sempat terperangah mendengar kata-kata Set. Namun saat ini pun semua orang berhak untuk menyatakan pendapatnya. Dan memang jika dilihat dari begitu  banyaknya promosi yang disajikan dalam kampanye energi alternatif masih dilakukan di media yang bisa diakses kalangan berada. Bukan warga petani yang konon merupakan kelompok yang diuntungkan dengan kebijakan energi alternatif.

Belajar Bersama Rakyat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro pun pernah menyatakan kebijakan energi selalu dibuat peraturan lebih dulu baru kemudian bisa “memaksa” BUMN seperti Pertamina untuk mengembangkan produksi gas.
Namun dalam tahap berikutnya, kasus Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas seharusnya bisa menjadi cermin. Ketika fasilitas ada namun karena perilaku pemanfaatan energi masyarakat tidak berubah, kebijakan itu pada akhirnya tidak bisa berjalan dengan baik.
Ketika tulisan ini dibuat pun, tengah berjalan kampanye penggunaan Bahan Bakar Nabati. Puluhan mobil bagus membelah kawasan perdesaan. Padahal di sepanjang jalur itu bisa  dihitung dengan jari berapa yang memiliki mobil mengkilap yang menjadi sarana kampanye.  Ah!
Satu hal yang pasti, kebijakan energi akan membawa konsekuensi konversi energi. Dan semoga kita bisa belajar bahwa belajar bersama rakyat merupakan solusi untuk memastikan konversi bisa berjalan dengan baik. Karena tidak hanya sekadar mengubah kebiasaan, namun juga mengubah keyakinan, sebagaimana dinyatakan Set. Agar promosi yang ada tidak miskin informasi bagi rakyat kecil!