Syahdan, dalam penanganan Kali Code, Yogyakarta, almarhum Romo Mangun meminta pembuat kebijakan mempertimbangkan kembali rencana penataan bantaran Kali Code yang akan “mengganti” pemukiman menjadi hutan kota. Permintaan ini disampaikan agar penataan Kali Code tak hanya dilakukan dengan menghijaukan kawasan dengan mengganti rumah yang telah ada puluhan tahun dengan rimbunan pepohonan.
Ada alternatif yang jauh lebih baik, kata Romo Mangun. Jika membuat hutan kota akan membuka potensi terjadinya kriminalitas. Ia pun mencontohkan kasus hutan kota di negara-negara Eropa yang ternyata tak aman dari gangguan kejahatan dan memaksa pemerintah mengadakan patroli polisi. Dan menambah anggaran pemerintah.
Belum lagi harus menyediakan tenaga untuk mengangkut dan membersihkan sampah dari sungai yang selama ini dilakukan secara sukarela oleh warga Code. Bukankah dengan cara demikian pemerintah tak perlu keluar biaya lagi untuk menangani kebersihan sungai.
Biarkan penduduk ada disitu dan terus menjaga keasrian lingkungan bantaran kali, saran Romo Mangun. Jika pun ada alasan untuk mengantisipasi banjir, permasalahan banjir bukan lantaran rumah-rumah penduduk semata. Tapi juga karena tangkapan air di hulu tidak sempurna akibat banyaknya hutan yang ditebang.
Alternatif , itulah yang disampaikan Romo Mangun. Dan sejarah mencatat, alternatif yang diberikan Romo Mangun memang sudah berjalan. Penduduk tetap punya tempat tinggal, pemerintah tak perlu keluar biaya ekstra dari APBD.
Kawasan Kali Code tempat tinggal sang Romo, pun tak terhitung menjadi ikon di komunitas internasional. Bahkan buah pikir sang Romo yang arsitek ini membuat konsep penataan kawasan Kali Code mendapatkan penghargaan arsitektur bergengsi, Agha Khan Award.
Namun perlu disadari, alternatif atau pilihan bisa jadi tidak bisa menggantikan sepenuhnya hal yang utama. Sebagaimana ketika kata alternatif menempel pada kata jalur. Kata yang akan mudah kita temukan ketika musim lebaran.
Jalur alternatif, seringkali tak seindah yang dibayangkan dari jalur utama. Perlu sedikit memutar, naik perbukitan, atau bahkan perlu ekstra hati-hati mengantisipasi lubang dan memacu kendaraan di tengah jalan makadam.
Karena itu, tak selamanya orang akan senang dan suka dengan alternatif. Sekalipun alternatif bisa membantu pemecahan masalah, namun tak bisa dipastikan apakah sang alternatif itu nantihnya juga akan bermasalah.
Bagaimanapun, hidup itu penuh dengan pilihan, kata orang bijak. Penuh dengan alternatif yang bisa kita tentukan mana yang lebih cocok dengan kondisi ke-kita-an. Bisa jadi pilihan seseorang akan berbeda dengan pilihan orang yang lain. Sebab, adanya pilihan itulah yang membuat hidup jauh lebih berwarna.
Tapi jangan heran jika kemudian banyak orang mencoba setiap pilihan untuk menjajagi yang terbaik. Ada pula yang memilih dengan serius dan memegang teguh dengan pilihan pertama. Namun ada yang ragu-ragu memilih sehingga tertinggal dari putaran roda kehidup-an.
Tak jarang pula ada yang sekadar bermain-main dengan pilihan. Atau bahkan ada yang mempertaruhkan pilihannya untuk memperoleh pilihan yang -menurutnya- jauh lebih baik.
Persoalannya bagaimana jika kemudian suatu alternatif harus diikuti? Tentunya kita bisa bilang bahwa itu bukan alternatif, sembari berhak menelisik dan mempertanyakan apakah al-ternatif itu sesuai dengan ke-kita-an?
[mth]

6 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Januari 7, 2009 pada 12:25 am
adi
ALTERNATIF yang diberikan Romo mangun lumayan baik. Kita lihat aja penataan Arsitek yang dilakukan oleh Romo Mangun di Kali Code. Menurut gue MTH ini orang yang pesimis, bisanya bacot doang. LO bisa gak kayak dia?
Januari 7, 2009 pada 9:45 am
mth
Mas adi, penilaian apapun saya rasa juga sebuah pemikiran (alternatif?). Akan tetapi tentu tak bisa bandingkan antara pesimistis dengan orang yang dengan mudah menghakimi orang lain. Apalagi yang cuma (maaf) mengumpat dan memarahi. Pernahkah berpikir bahwa pesimisme dan optimisme merupakan sebuah dialektika, dan menjadi sumber kelahiran sebuah solusi? Dibandingkan dengan sinisme yang tidak menjadi bagian dari penyelesaian, namun hanya akan menambahi permasalahan baru.
Saya tidak menilai alternatif yang disajikan oleh Romo Mangun, yang saya pertanyakan adalah alternatif yang melekat pada “jalur alternatif” ketika lebaran atau ada peristiwa luar biasa. Seringkali alternatif yang disajikan oleh petugas malah membuat masyarakat menjadi tidak nyaman. Sederhananya, jika alternatif, harusnya lebih baik, bukan lebih buruk. Seharusnya setiap alternatif meniru yang dilakukan Romo Mangun, menjadi lebih baik. Mohon maaf jika terdapat kesalahan membaca, karena kerusakan bukan pada blog ini. Dan moga tidak menambah lagi b****-an.. Salam.
nb: Saya jadi ingat respons mbak sirikit syah di sebuah forum
Maret 21, 2009 pada 3:17 pm
Red Chasbulin
wah wah… saya sayangkan ada respon kurang positif di sini… sebenarnya saya tertarik sekali dengan artikel mas [mth] tetang romo mangun. namun demikian, saya juga belum melihat keberadaan relevansi “jalur Alternatif” transportasi dan desain romo Mangun yang diuraikan kebanyakan orang sebagai “alternatif” desain (menggantikan rencana pemkot).
hakekat sebuah desain adalah pemecahan permasalahan2. saat pemkot mengajukan sebuah gagasan yang kurang berhasil memecahkan banyaknya permasalahan maka dapat dibilang desainnya kurang berhasil. namun justru saat seorang romo Mangun meski sebagai individu dapat memberi solusi yang lebih baik dan banyak tentu tidak dapat dibilang desainya jadi sebuah alternatif.
saya rasa memang benar alternatif memang cenderung kurang baik dari yang utama. namun disini secara kualitas, justru Pemkotlah yang menjadi ide cadangan. in-case Romo mangun tiba tiba males melanjutkan mogok makannya.
hehe.. thankyou mas mth. baru tau klo dulu Romo Mangun sehebat itu.
pantas saja duli beliau benar2 di elu elukan si kampus…
PS: klo Jalur alternatif itu.. sebenernya ga selalu lebih buruk dari segi kualitas. hanya kurang besar dari segi kuantitas. mungkin lho…
PPS: klo bikin tulisan lagi tentang CODE lagi, letme know..
Agustus 17, 2009 pada 2:24 pm
benedict radit
wah wah kayaknya seru nech..mas..mas…saya bln dpn KKN di bantaran kali code,nah lo…saya tuh masih bingung harus ngapain, meskipun tugas klompok pertama cuma identifikasi doank..
klo2 mas2 bisa bantu saya,saya ucapkan matur nuwun…
meneruskan Romo Mangun??wah bukan porsi saya,terlalu berat…perlu dukungan dari berbagai pihak!warga jogja pada khususnya dan semua yg mengenal kali code pada umumnya
November 6, 2009 pada 4:04 pm
Reffahs Yerffoeg
gue sedikit tau tentang kali code dan romo mangun. satu kata untuk romo mangun: BRILLIANT!
jujur, gue seringkali skeptis terhadap “niat baik” pemerintah. atas nama kepentingan rakyat, pemerintah menggusur orang, memindahkan ke tempat yang katanya lebih layak, lebih baik. padahal itu tidak lebih dari upaya pemerintah untuk “mengeruk” potensi uang yang bisa didapat dari penggusuran warga kali code itu.
ayolah, kritislah terhadap program pemerintah. memang sih ga semua program pemerintah itu buruk, tapi ingat: ga sedikit pula yang tidak pro rakyat, tapi pro uang.
Februari 27, 2010 pada 2:31 pm
eko bowo saputro
saya lagi mencari info menarik tentang kali code, siapa tahu teman-teman tahu, untuk membuat cerita naskah drama…ada usulan…kontak ke email saya di jatisundulangit@yahoo.co.id.trims